Latar Belakang
Sejarah Bangsa Indonesia mencatat bahwa Bangso Batak selalu hadir, berjuang dan berpartisipasi sejak; deklarasi Sumpah Pemuda (Jong Batak), pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, era Pembangunan Nasional hingga saat ini. Tercatat sederetan nama-nama para pejuang nasional seperti Amir Syarifuddin Harahap, T.B. Simatupang, Adam Malik Batubara, A.H.Nasution, D.I.Panjaitan, M. Panggabean, dan banyak lagi yang tidak dapat disebut satu persatu. Dibidang seni budaya sejarah juga mencatat nama-nama seperti Cornel Smanjuntak, F. Silaban, El Manik, Nahum Situmorang, S.Dis Sitompul, Sitor Situmorang, Nortier Simanungkalit dan lain lain, menempatkan Bangso Batak sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa.
Prestasi yang mengagumkan ini tidak lepas dari karakter yang terbentuk dari nilai-nilai budaya Batak yang diwariskan oleh para leluhur. Semangat juang bangso Batak sebenarnya telah terlihat sejak lama yaitu jaman Sisingamangaraja ke XII yang gugur dalam perlawanan menentang penjajahan pada tahun 1907 dan dinyatakan sebagai pahlawan nasional.Tanpa disadari waktu berjalan terus dan perubahan-perubahan telah terjadi di depan mata kita. Perubahan itu menyentuh semua aspek kehidupan, yang memberi dampak hal-hal yang positif dan negatif. Kita sudah semestinya perlu menyikapi perubahan tersebut dalam kebersamaan, sehingga generasi baru Bangso Batak ke depan dapat mempertahankan jati dirinya sebagai orang Batak tanpa mengurangi identitasnya sebagai bangsa Indonesia.
Untuk itu perlu dibangun komunikasi yang interaktif antar generasi secara berkesinambungan agar nilai-nilai budaya Batak dapat dilestarikan serta kepedulian terhadap lingkungan dikembangkan.
Apa Itu “Toba Dream”
Bermula dari konser musik “Save Lake Toba” yang digelarkan di Hotel Sahid Jaya, Jakarta pada tahun 2001. Segelintir generasi muda Batak berbincang-bincang bagai mana mereka dapat berpartisipasi dalam pelestarian Danau Toba dan budaya Batak. Wacana ini ibarat gayung bersambut dan mereka bersepakat mengambil nama untuk komunitasnya yaitu “Toba Dream”. Walaupun komunitas ini tidak mempunyai payung (institusi), langkah kecil yang mereka lakukan ternyata tahap demi tahap menunjukkan hasil yang nyata khususnya dibidang pengembangan musik Batak.
Peluncuran album Toba Dream I ternyata mendapat respon positif baik dikalangan nasional maupun internasional. Karya tersebut terus mereka lanjutkan dengan Album Toba Dream II dan III (Trilogy) disamping Album Nommmensen (Tongam Sirait), Album Hatahon Ma (Dipo Pardede), yang secara keseluruhan di arransemen musisi muda yang sedang menanjak karier yaitu Viky Sianipar.Sejalan dengan visinya “ menjadi suatu komunitas strategis yang mampu melakukan langkah-langkah kecil namun berdampak besar terhadap pelestarian lingkungan dan budaya disekitar Danau Toba”, karya-karya musik yang mereka persembahkan selalu bersifat mengajak masyarakat Batak pada umumnya dan generasi muda pada khususnya untuk mulai peduli terhadap pelestarian budaya dan lingkungan disekitar Danau Toba.
Komunitas ini tidak akan bermimpi hal yang muluk-muluk, namun lebih cenderung untuk melakukan langkah kecil antara lain bagaimana menanam seribu pohon disekitar Danau Toba, mengajak generasi muda untuk kembali pada jati dirinya “Batak itu Keren” dan membangun interaksi sesama dan antar generasi.
Toba Dream bukan suatu komunitas yang eksklusif. Mereka membuka diri seluas-luas agar komunitas terus berkembang sehingga menghasilkan karya-karya besar dalam pelestarian lingkungan Danau Toba dan budaya Batak.
Permasalahan
Visi & Misi
Konsep Acara
Pendanaan
Waktu Pelaksanaan
Kepanitiaan