// you’re reading...

Liputan Acara

Liputan TDD I - Putra Samosir, Siantar Man dan Anak Medan

(Menyikapi identitas kita dengan bijak sedini mungkin bisa jadi merupakan langkah kecil tak berarti. Tetapi kedahsyatan pasti akan yang terjadi, saat kita mampu mengeloborasi realita situasi dan kondisi dihadapan mata dengan kesungguhan hati. Putra, Pemuda dan Anak ini telah membuktikan dalam derap langkah mereka menuju impian. Dari Toba Dream Coffee Morning terkuak semuanya)

Hujan menghantam bumi Jakarta sejak Jumat pagi hari buta sampai malam hari. Dari layar monitor dipelbagai media elektronik tergambarkan situasi banjir lokal dihampir setiap sudut ibukota. Rasa was-was menyelimuti hati. Bagaimana kalau tirisan air dari langit itu berkelanjutan. Padahal esok harinya, Sabtu, tanggal 02 Febuari, Toba Dream Community akan mengadakan forum dialog interaktif lintas generasi Batak untuk pertama kali.

“Toba Dream Coffee Morning I” demikian tajuk acara dikatakan, merupakan salah satu parameter kedepan sejauhmana lembaga partungkoan dapat dimaksimalkan untuk mengkoreksi kecerdasan sekaligus kecerdikan bangso Batak. Dalam arti pemahaman sesungguhnya, sejauhmana masyarakat Batak dapat survive hingga di era globalisasi.

Dengan pikiran positif, meskipun bayang-bayangan kegagalan akibat alam kurang bersahabat sudah ditepis sejauh mungkin, acara tetap jalan. Esoknya jam 10.00 di TobaDream ”family café” Jl. Dr.Sahardjo no 90 speaker Togar Sianipar, Wakasad Cornel Simbolon dan Trimedya Panjaitan, malahan sangat ekspresif menggambarkan perjalanan hidup mereka dalam meniti karier dihadapan tokoh-tokoh seperti Cosmas Batubara, Humuntar Lbn.Gaol, Panda Nababan, Luhut MP Pangaribuan, Postdam Hutasoit, Saidi Butar-Butar, Parlin Siahaan, Marten Hutabarat, Martin Sirait, Edison Manurung, Liasta Karo-Karo dan para audiens muda Batak kurang lebih 100 peserta yang diundang. Dengan arahan Jansen Sinamo sebagai moderator yang ulung, Mr. Etos dengan ringan, komunikatif serta bersahabat menjadikan arena dialog itu cukup apik dan sinergis.

Sedikit terkejut, dan tidak pernah tahu sebelumnya, ketiga pembicara ini mempunyai kesamaan pengalaman kecil yang tragis. Togar Sianipar, ketika berumur 6 bulan sudah ditinggalkan sang ayah, Trimedya Panjaitan sedikit beruntung masih kenal sang ayah sampai berumur 6 tahun, sementara Cornel Simbolon berasal dari keluarga miskin dan hidup berdasarkan bantuan pastor. Satu hal yang sering bahkan sudah mulai dilupakan kebanyakan orang Batak adalah pesan magis “napogos do hita amang, benget ma ho sikola”.

Kuatnya artian daripada pesan magis itu jadi dasar tangga-tangga perjalanan hidup, Togar S, Cornel S dan Trimedya P melalui kerja keras dengan tetap memelihara nilai-nilai budaya Batak sebagai dasar mengembangkan knowledge, skill dan attitude. Keberhasilan demi keberhasilan yang diperoleh, para nara sumber sepakat bahwa semua melalui proses yang melelahkan. Pahit, manis, asin bahkan perasaan hambar kehidupan dilakoni mereka agar dapat keluar dari kemiskinan dan kesusahan.

Kondisi yang prihatin dijadikan daya inspirasi dan semangat juang dalam merengkuh cita-cita. Seperti yang alami putra Samosir ini, setelah lulus Akabri dan beberapa tahun kemudian ditempatkan di Timur Tengah. “Tak pernah terpikirkan saya bahwa saya dapat berada di Jerusalem, tempat bagian sejarah Kitab Suci. Tahun 1975, saya merasakan ketidakberartian sebagai manusia ketika melakukan napak tilas sejarah Injil. Sejak itu saya semakin sadar terutama dalam menjalani berbagai tugas yang diembankan kepada saya dengan totalitas serta rendah hati.” papar Wakasad Letjen Cornel Simbolon dalam kiat meniti karier.

Sementara pemuda Siantar-man yang merupakan orang Batak pertama kali berbintang tiga di kepolisian mengatakan bahwa pada dasarnya tidak berminat jadi polisi, yang penting sekolahnya gratis. “Aku mencari sekolah yang tidak memerlukan biaya. Ibuku seorang janda, saya tak tega menyusahkannya. Tanpa backing, akhirnya saya dapat diterima di Akabri kepolisian”jabar Komjen Pol (Purn) Drs. Togar Sianipar tentang tekadnya.

Serupa halnya anak Medan ini bahwa dibalik kebandelannya, nalurinya melihat perjuangan sang ibu untuk menghidup anak-anaknya, mendorong Trimedya berupaya mencari sedikit uang untuk meringankan sang ibu. Meskipun sang ibu kurang berkenan. Mulai dari cuci piring dan gelas di kedai kopi untuk sekedar makan, calo karcis pertandingan sepakbola di stadion Teladan, Medan sampai tukang cuci “bemo” adalah bagian sejarah hidupnya yang mengantarkannya menjadi Anggota DPR-RI dan Ketua Komisi III termuda sepanjang sejarah. Ketiga speaker istimewa ini mengajak generasi muda agar semakin mengasah skill, knowledge dan attitude lebih serius lagi dalam mensiasati kerasnya persaingan hidup sekarang ini. Jangan sampai terlena.

Garis tebal dari Toba Dream Coffee Morning yang disampaikan oleh ketiga narasumber ini adalah ketika orang lain nilainya sembilan, kita orang batak nilainya mesti sepuluh atau ketika orang lain menguasai bahasa asing dua kita mesti lebih. Kita orang Batak mesti punyai nilai lebih dalam skill, knowledge dan attitude; baru dihargai. Kalau tidak. janganlah terlalu berharap.

“Ijuk dipara-para, hotang diparlabi-labian, nabisuk napunasa hata, naoto tu pargadisan.”tutup Wakasad Letnan Jenderal Cornel Simbolon dengan anggun. Itulah salah satu kiasan yang indah, serta bukti bahwa budaya batak sarat penempaan attitude kalau kita sadar. Memang mengusung identitas bukan perkara mudah. Masalah akan bertambah runyam bila urusan idenditas ini sudah memasuki wilayah lain. Hanya dengan kadar kepribadian ulung, kita dapat meraih puncak. Horas.

Forum Diskusi

Belum ada tanggapan untuk artikel “Liputan TDD I - Putra Samosir, Siantar Man dan Anak Medan”

Berikan tanggapan



Sponsor & Media Partner :